Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar dan merupakan negara keempat di dunia dengan penduduk terbesar. Sampai dengan tahun 2010, tercatat jumlah penduduk Indonesia adalah sebesar 237,56 juta jiwa (BPS, 2010). Jumlah penduduk yang fantastis dan memiliki potensi yang strategis jika dipandang sebagai potensi pangsa pasar bagi dunia industri. Di samping itu, jika dilakukan pengelolaan dan pengembangan keterampilannya, SDM Indonesia akan menjadi kekuatan yang besar bagi pembangunan negara dan posisi tawar di mata dunia.
Namun di sisi lain dengan jumlah penduduk yang besar, Pemerintah Indonesia kerap menghadapi berbagai permasalahan sosial yang besar yakni dalam penyediaan sarana pendidikan, pangan dan sandang, lapangan pekerjaan dan masalah lainnya. Pertumbuhan penduduk yang terus bertambah setiap tahunnya akan menambah jumlah tenaga kerja sehingga jumlah lapangan pekerjaan yang harus disediakan harus terus ditingkatkan.
Jumlah lulusan dari tahun ke tahun terus meningkat. Namun peningkatan tersebut tidak diiringi oleh pertambahan jumlah lapangan pekerjaan. Menurut data BPS (2010), jumlah pengangguran pada Februari 2010 sebesar 8,59 juta orang. Dari total angkatan kerja sebesar 116,00 juta orang, sekitar 92,60 persennya adalah penduduk yang bekerja. Dan fakta menunjukkan sebagaimana Napitupulu (2009) nyatakan bahwa sampai sebanyak 82,2 persen lulusan perguruan tinggi bekerja sebagai pegawai. Lulusan perguruan tinggi cenderung menjadi pencari kerja dan sangat sedikit yang menjadi pencipta lapangan kerja. Masa tunggu lulusan perguruan tinggi untuk mendapatkan pekerjaan adalah selama enam bulan hingga tiga tahun hal ini menyebabkan terjadinya pengangguran terdidik yang tidak terhindarkan. Sebagian besar lulusan merasa tidak siap untuk membuka lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri atau menjadi wirausahawan.
Padahal, Limbong (2010) menyatakan bahwa peranan para wirausahawan pada suatu negara yang sedang berkembang tidak dapat diabaikan terutama dalam melaksanakan pembangunan. Suatu bangsa akan berkembang lebih cepat apabila memiliki para wirausahawan yang dapat berkreasi serta melakukan inovasi secara optimal yaitu mewujudkan gagasan-gagasan baru menjadi kegiatan yang nyata dalam setiap usahanya.
McClelland dalam Ciputra (2008) menyatakan bahwa agar suatu negara bisa menjadi makmur dibutuhkan minimum 2% jumlah wirausaha dari total jumlah penduduknya. Amerika Serikat pada tahun 2007 telah memiliki 11,5% jumlah wirausaha, Singapura telah memiliki 7,2% wirausaha sampai pada tahun 2005 sementara Indonesia diperkirakan hanya memiliki 0,18% wirausaha atau sekitar 440.000 orang dari yang seharusnya berjumlah 4,4 juta orang.
Pengaruh pendidikan kewirausahaan selama ini telah dipertimbangkan sebagai salah satu faktor penting untuk menumbuhkan dan mengembangkan hasrat, jiwa, dan perilaku berwirausaha di kalangan generasi muda (Kourilsky dan Walstad, 1998).
Hendarman dalam Siswoyo (2009) menyatakan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang semakin rendah kemandirian dan semangat kewirausahaannya. Untuk itu, dibutuhkan peran dunia pendidikan termasuk perguruan tinggi untuk senantiasa membangun dan mengarahkan kemampuan serta minat para lulusan perguruan tinggi untuk bergerak dan mengembangkan kewirausahaan sehingga lapangan pekerjaan yang sedikit tidak menjadi masalah bagi para lulusan, karena mereka sudah mampu untuk menjalankan usahanya sendiri.
Sikap, perilaku dan pengetahuan mereka tentang kewirausahaan akan membentuk kecenderungan mereka untuk membuka usaha-usaha baru di masa mendatang (Nurul Indarti et al., 2008).
Kewirausahaan merupakan pilihan yang tepat bagi individu yang tertantang untuk menciptakan kerja, bukan mencari kerja.
• Menurut William Danko: ”Seorang wirausahawan (entreprenuer) mempunyai kesempatan 4 kali lebih besar untuk menjadi milyuner”.
• Menurut majalah FORBES: ”75% dari 400 oran terkaya di Amerika berprofesi sebagai enterprenuer”.
• Fakta membuktikan bahwa banyak entreprenuer sukses yang berawal usaha kecil (Siswoyo, 2006).
Menyadari hal tersebut, sebagian besar perguruan tinggi telah memasukkan materi kewirausahaan sebagai salah satu mata kuliah yang harus ditempuh oleh mahasiswa selama studinya. Seluruh mahasiswa diproses dan dilibatkan dalam pengembangan jiwa kewirausahaan melalui penyertaan mahasiswa pada perkuliahan Kewirausahaan dan program-program pengembangan keahliannya. Mata kuliah kewirausahaan diajarkan kepada mahasiswa dengan harapan mahasiswa akan tertarik untuk menjadi wirausaha selama atau setelah menyelesaikan kuliahnya sehingga mereka bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi diri sendiri dan masyarakat.
Pemerintah pun memberi dukungan penuh terhadap program pengembangan kewirausahaan di perguruan tinggi. Salah satu bentuknya adalah melalui Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, pemerintah menyelenggarakan Program Mahasiswa Wirausaha dengan memberikan bantuan atau hibah yang dapat dipergunakan oleh mahasiswa dan dosen pembinanya mengembangkan suatu bisnis tertentu dengan harapan setelah bisnis tersebut berkembang maka akan memiliki dampak yang berkelanjutan dalam pengembangan bisnis selanjutnya oleh mahasiswa lainnya. Untuk memperkuat program tersebut, Dirjen DIKTI pun menyelenggarakan program Training of Trainer Kewirausahaan bagi para Dosen yang membina Kewirausahaan di Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta.
Hal ini tentu diharapkan dapat menjadi bagian dalam upaya menangani masalah pengangguran lulusan perguruan tinggi. Untuk itu perlu dikembangkan kewirausahaan bagi para remaja dan pemuda. Usia muda merupakan masa yang sangat efektif untuk pembinaan dan pengembangan jiwa kewirausahaan. Pendidikan entrepreneurship sejak dini sebagaimana dikemukakan Ciputra sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Justin G. Longnecker, Carlos W. Moore, J. William Petty (2001), yang menyatakan bahwa usia paling tepat untuk berwirausaha adalah antara pertengahan 20-an dan 30-an. Pada usia ini ada keseimbangan antara persiapan pengalaman dan kewajiban terhadap keluarga. Namun pernyataan ini tidak bisa digeneralisasir secara mutlak. Di samping itu motivasi merupakan hal yang tidak kalah penting dalam menumbuhkan jiwa wirausaha karena sebagian besar wirausaha dimotivasi oleh keinginan untuk menentukan nasibnya sendiri yaitu dengan berusaha seoptimal mungkin mencapai sebuah tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Motivasi untuk mahasiswa dalam berwirausaha sangatlah penting dengan menyediakan wadah yang memberikan kesempatan memulai usaha sejak masih kuliah, dengan harapan setelah lulus akan melanjutkan usaha yang sudah dirintis.

About these ads