Bogor: Kota Pornografi ?


Munculnya rencana penerbitan majalah Playboy yang berbasis di Amerika, menjadikan isu pornografi dan pornoaksi menghangat kembali di masyarakat.  Tidak hanya demo-demo menentang rencana terbitnya majalah tersebut, tetapi pembahasan pornografi dan pornoaksi di DPR-pun kian gencar meskipun tuntutan segera diberlakukannya UU Anti Pornografi tersebut telah sering dikumandangkan oleh banyak kalangan.  Pihak penegak hukum dari kepolisian juga kian rajin merazia tempat-tempat penjualan majalah porno, sehingga akhir-akhir ini majalah-majalah porno menghilang dari pasaran.

Perdebatan boleh-boleh aja terus berlangsung. Tapi pihak Playboy kemungkinan kecil mengurungkan niatnya. Kalau Playboy edisi Indonesia jadi terbit, maka daftar majalah porno di negeri ini yang berlisensi asing akan semakin panjang setelah FHM, EVE, dan ME. Sebenarnya produk lokal juga tidak steril dari pornografi dan pornoaksi, justru kini sudah hadir sebagai ‘penumpang gelap’ reformasi pers.  Majalah dan televisi kita juga telah setia berjualan produk pornografi dan pornoaksi. Lebih-lebih internet. Dimasa lalu dunia porno ini berdekatan dengan dunia prostitusi. Bahkan pornografi itu sendiri berasal dari bahasa Yunani pornographia, secara harfiah berarti menulis atau menggambar WTS. 

Pornografi dan pornoaksi di Bogor ternyata juga telah lama berkembang, tetapi seolah telah menjadi kebiasaan dan maklum adanya.  Ada yang terang-terangan beroperasi dalam prostitusi seperti yang disinyalir berkembang di kawasan Puncak sehingga berkembang profesi biong seks, penyedia kebutuhan seks bagi para turis lokal maupun asing.  Ini adalah salah satu efek negatif Bogor sebagai kota tujuan wisata. Di sekitar Kemang-Parung beberapa waktu lalu juga banyak diberitakan maraknya aksi pornoaksi yang termasuk dalam kelompok awal pornoaksi yaitu dunia prostitusi. Bahkan tampak juga perkembangan dunia waria di sekeliling Kebun Raya, yang mencari mangsa di malam hari.  Di sungai Ciliwung, setiap hari banyak orang yang mandi atau keperluan lain dengan membuka sebagian atau seluruh auratnya.  Sepertinya pornografi sudah menjadi ‘santapan’ setiap hari dalam kehidupan kita.  Tapi haruskah demikian?

Tarik Ulur Pornografi: Antara Pengusaha Dengan Penguasa

Dagangan pornografi dan pornoaksi tampaknya sangat menggiurkan para pengusaha hitam.  Prinsip ekonomi kapitalis, yang menyatakan selama ada yang membutuhkan, maka barang atau jasa akan dinilai memiliki nilai ekonomi. Barang dan jasa merupakan alat pemuas kebutuhan karena kegunaan barang dan jasa tersebut, sedangkan kebutuhan menurut mereka sama dengan keinginan.  Dari sini tampak peran para pengusaha begitu dominan merespon berbagai even untuk bisnis mereka meskipun ”barang dagangan” mereka berupa pornografi maupun pornoaksi.  Para pengusaha hitam ini juga senantiasa mengelabuhi penguasa agar usaha mereka mulus tanpa hambatan.  Tengoklah untuk kasus Playboy, meski menghadapi protes dari banyak kalangan, pihak manajemen Playboy Indonesia tetap berencana akan menerbitkan majalah tersebut. Bahkan kayaknya udah mengantisipasi. “Ingat, saya ikut terlibat dalam pembuatan rancangan UU Pornografi dan Pornoaksi. Masak saya yang turut merancang, tapi ikut melanggar. Itu saya tahu banget, kata M Ponti Carolus, Direktur Publisher Playboy Indonesia (SuaraMerdeka CyberNews, 16/1/2006).Bagian Promosi Playboy Avianto Nugroho juga mengaku sudah mengantongi izin penerbitan. “Izin penerbitan itu sudah keluar sejak akhir November 2005 lalu” (www.detik.com, 12/1/2006).

Sementara departemen yang terkait dengan masalah ini antara lain adalah Departemen Komunikasi dan Informatika justru tidak bisa bertindak tegas.  “Industri pornografi telah begitu berkembang padahal pemerintah tidak bisa mengambil tindakan,” kata Menteri Kominfo Sofyan Djalil. Terkait dengan Playboy Indonesia, Menteri bahkan menegaskan “Playboy tidak bisa dilarang” (www.klik-galamedia.com, 30/1/2006). 

Meski demikian Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan menolak, demikian juga Walikota Bogor H. Diani Budiarto juga menolak majalah Playboy beredar di kota Bogor. (www.kotabogor.go.id, 30/1/2006)

Definisi Pornografi

Tarik-ulur serta perdebatan pro-kontra mengenai pornografi sebenarnya tidak terlepas dari definisi pornografi itu sendiri.  Definisi memang penting, oleh karenanya Ibnu Sina pernah berkomentar: “Tanpa definisi, kita tak akan pernah bisa sampai kepada konsep.” Karena itu, definisi, menurut filsuf Iran itu, sama pentingnya dengan silogisme (baca: logika berpikir yang benar) bagi setiap proposisi (dalil atau pernyataan) yang kita buat.Definisi yang jelas akan menolong kita untuk menentukan keputusan dan penilaian, tidak ragu dan bingung. Tidak seperti sekarang, menentukan definisinya aja sesuai persepsi masing-masing orang. Tentu saja hasilnya juga beragam. Ada yang bilang kalo berpose telanjang baru dibilang pornografi, ada juga yang bilang kalo masih mengenakan busana, meski kayak kekurangan bahan belum masuk definisi pornografi.

Malah kalau sesuai budaya ketimuran, belum dianggap porno. Misalnya kemben di jawa atau koteka di Papua.  Encyclopedia bebas Wikipedia mendefinisikan: Pornography (from Greek pornographia — literally writing about or drawings of harlots) is the representation of the human body or human sexual behavior with the goal of sexual arousal, similar to, but (according to some) distinct from, erotica. Pornography may use any of a variety of media — written and spoken text, photos, sculpture, drawings, moving images (including animation), and sounds such as heavy breathing. Pornographic films combine moving images, spoken erotic text and/or other erotic sounds, while magazines often combine photos and written text. Novels and short stories provide written text, sometimes with illustrations. In addition to media, a live performance may also be called pornographic. (Pornografi (dari bahasa Yunani pornographia – secara harfiah berarti menulis atau menggambar WTS) adalah gambaran tubuh manusia atau perilaku sexual dengan tujuan rangsangan sex, mirip dengan, tapi (menurut sebagian) berbeda dari erotica.  Pornografi mungkin menggunakan berbagai macam media – teks suara dan tertulis, foto, patung, gambar, gambar bergerak (termasuk animasi) dan suara seperti pernafasan terengah.  Film pornografi menggabungkan gambar bergerak, text erotis suara dan atau suara-suara erotis, sementara majalah sering menggabungkan foto dan text tertulis.  Novel dan cerita pendek menyediakan text tertulis, terkadang dengan ilustrasi. Disamping media, suatu pertunjukkan hidup mungkin juga bisa disebut pornografi).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pornografi adalah penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi; atau bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi dalam seks.Dalam Microsoft Encarta Dictionary Tools, pornografi didefinisikan sebagai sexually explicit material: films, magazines, writings, photographs, or other materials that are sexually explicit and intended to cause sexual arousal (pornografi adalah penggambaran secara tegas tentang seksual; bisa dalam film, majalah, tulisan, foto dan bahan lainnya yang bermaksud menimbulkan rangsangan seksual).Definisi mana yang paling tepat?  Ketiga definisi di atas, mengandung poin yang sama yaitu adanya kesengajaan untuk membangkitkan rangsangan sexual. Bagaimana jika pelaku pornografi berdalih bahwa mereka tidak bermaksud sengaja membangkitkan rangsangan sexual?  Inilah jika suatu pandangan hidup diambil dari manusia, masing-masing memilikii kepentingan.

Oleh karena itu hendaknya definisi tersebut diambil dari Allah SWT, Dzat yang Maha Mengetahui tentang baik-buruk bagi manusia, sementara manusia itu sendiri tidak mengetahui hakikat baik-buruk bagi dirinya.  Maka definisi dari Islamlah yang hendaknya kita ambil. Sebagai Muslim, tentu kita wajib menjadikan Islam sebagai pedoman hidup kita. Terus, tidak boleh juga kita setengah-setengah dalam mengamalkan Islam. Tidak boleh juga ada pilihan lain untuk mengatur urusan kehidupan kita selain Islam. Kita wajib taat kepada ketentuan Allah dan RasulNya dan harus secara menyeluruh (kaaffah). Allah SWT  befirman:Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Qs. al-Baqarah [2]: 208).

Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menyatakan, “Allah SWT telah memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin dan mempercayai RasulNya agar mengadopsi sistem keyakinan Islam (‘akidah) dan syari’at Islam, mengerjakan seluruh perintahNya dan meninggalkan seluruh laranganNya selagi mereka mampu.Berkaitan dengan pornografi, Islam telah mengatur tentang aurat. Itu sudah cukup untuk memberikan definisi tentang pornografi atau pornoaksi. Batasan aurat ini memungkinkan kita untuk bisa menentukan apakah suatu perilaku, gambar, atau gaya berpakaian seseorang termasuk memamerkan aurat atau tidak ke khalayak umum.

Aurat perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Bagi kaum laki-laki, dari pusar sampai lutut. Itu batasan auratnya. Jadi kalau ada laki-laki memakai koteka dan dipamerkan di depan orang banyak, jelas termasuk membuka auratnya. Itu sudah terkategori bentuk pornoaksi. Begitu juga kalau ada perempuan memakai kemben (salah satu pakaian adat Jawa), dan dipake di depan umum, maka sudah terkategori pamer aurat (termasuk pornoaksi). Membuka aurat di depan umum dalam pandangan Islam terkategori dosa. Definisi ini sangat jelas.Itu sebabnya, hampir semua media massa yang ada saat ini akan dicap sebagai media massa penyebar pornoaksi dan pornografi dalam definisi Islam. Dan seharusnya memang standar itulah yang dipakai oleh setiap Muslim ketika menilai suatu fakta berupa perbuatan maupun pemikiran.

Dalam fatwanya, MUI juga telah jelas memutuskan:

Pertama, bahwa menggambarkan secara langsung atau tidak langsung tingkah laku secara erotis, baik dengan lukisan, gambar, tulisan, suara, reklame, iklan, maupun ucapan; baik melalui media cetak maupun elektronik yang dapat mengakibatkan nafsu birahi adalah haram. 

edua, membiarkan aurat terbuka dan atau berpakaian ketat atau tembus pandang dengan maksud untuk diambil gambarnya, baik untuk dicetak maupun divisualisasikan adalah haram.

Ketiga, melakukan penggambilan gambar sebagaimana dimaksud pada langkah 2 adalah haram.

Keempat, melakukan hubungan seksual atau adegan seksual di hadapan orang, melakukan pengambilan gambar hubungan seksual atau adegan seksual baik terhadap diri sendiri ataupun orang lain dan melihat hubungan seksual atau adegan seksual adalah haram.

Kelima, memperbanyak, mengedarkan, menjual, maupun membeli dan melihat atau memperhatikan gambar orang, baik cetak atau visual yang terbuka auratnya atau berpakaian ketat tembus pandang yang dapat membangkitkan nafsu birahi, atau gambar hubungan seksual adalah haram;

Keenam, berbuat intim atau berdua-duaan (khalwat) antara laki-laki dengan perempuan yang bukan mahramnya, dan perbuatan sejenis lainnya yang mendekati dan atau mendorong melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, adalah haram;

Ketujuh, memperlihatkan aurat yakni bagian tubuh antara pusar dan lutut bagi laki-laki serta seluruh tubuh wanita kecuali muka, telapak tangan dan telapak kaki adalah haram, kecuali dalam hal-hal yang dibenarkan secara syar’i;

Kedelapan, memakai pakaian tembus pandang atau ketat yang dapat memperlihatkan lekuk tubuh adalah haram.Tampak, bahwa fatwa MUI tentang pornografi dan pornoaksi sangat jelas dan rinci. MUI mengutip banyak ayat al-Quran dan sabda Nabi Muhammad saw yang menekankan pentingnya masalah menjaga aurat dan pakaian.Seperti hadits Nabi saw: “Ada dua kelompok penghuni neraka yang belum pernah aku lihat; (1) sekelompok orang yang memegang cambuk seperti ekor sapi; dengan cambuk-cambuk itu mereka memukuli orang, dan (2) kaum perempuan yang berpakaian (seperti) telanjang, berjalan lenggak-lenggok, menggoda, kepala mereka bersanggul besar dibalut laksana punuk unta; mereka ini tidak akan masuk sorga dan tidak dapat mencium harumnya, padahal keharuman sorga dapat tercium dari jarak sekian.” (HR Muslim).Namun siapa yang mengenakan sanksi bagi pelanggarnya? Tidak ada institusi yang melakukan eksekusi terhadapnya, karena negeri ini masih menganut sistem sekuler.  Layakkah aturan hidup sekuler bagi manusia? 

Kritik Terhadap Sistem Sosial Sekuler

Di dalam sistem sekuler, yang dianggap sebagai kebutuhan hanyalah yang bersifat materi, padahal dalam kenyataan sebenarnya ada juga kebutuhan ma’nawiyah, juga ruhiyah. Mengabaikan kebutuhan ma’nawiyah dan ruhiyah akan membawa bencana besar bagi kemanusiaan, kerusakan bagi masyarakat.  Demikian halnya dengan pornografi dan pornoaksi yang dianggap sebagai kebutuhan karena masih ada yang menginginkannya.  Karena mengabaikan kebutuhan ma’nawiyah dan ruhiyah tersebut di atas maka masyarakat sekuler memandang bahwa pornografi dan pornoaksi adalah sebuah kelaziman, kebebasan, hak asasi dan sebagainya. Disamping itu, kebutuhan dan kegunaan dipandang apa adanya; ini berarti mengabaikan apa yang harus dijadikan pijakan oleh masyarakat. Mengabaikan aspek ma’nawiyah dan ruhiyah akan menyebabkan kerusakan masyarakat.  Diperolehnya barang dan jasa adalah untuk dimanfaatkan.  Berarti akan menimbulkan interaksi masyarakat, maka memandang barang dan jasa harus juga melihat masalah yang harus dijadikan pijakan masyarakat, bukan hanya pada barang dan jasa itu sendiri.  Dalam hal ini materi pornografi dan pornoaksi itu akan menimbulkan permasalahan dalam interaksi masyarakat, sehingga haruslah memperhatikan juga aspek ma’nawiyah dan ruhiyah yang menjadi pijakan masyarakat.

Kiat Islam Membabat Pornografi

Hukum di Indonesia terbukti rapuh menanggulangi pornografi, seperti kekhawatiran seksolog Naek L Tobing, “Hukum di Indonesia belum kuat untuk melakukan pemilahan distribusi media berbau porno sehingga para remaja dan anak di bawah umur bisa membelinya secara bebas“, (Media Indonesia Online, 17 Januari 2006).Tentu kita prihatin, sedih, dan sekaligus kesal dengan kenyataan ini. Karena setiap hari kita nyaris digempur dengan banyaknya visualisasi dan bacaan bernuansa pornografi dan pornoaksi.  Tentu ini juga tidak boleh dibiarkan. Harus segera dicari solusinya. Nah, satu-satu jalan supaya bisa tenang dalam hidup ini adalah dengan menggusur sekularisme dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Lalu menghadirkan Islam sebagai ideologi negara. Tanpa itu, aksi maksiat akan tetap marak, dan aksi dari sebagian kalangan umat Islam yang sudah kesal karena maksiat dibiarkan, akan terus digelar. Sebagai sebuah ideologi, Islam punya cara penyelesaian terhadap masalah ini. Tentu, jika Islam diterapkan sebagai ideologi negara. Menurut Syaikh Dr. Abdurrahman al-Maliki, “Barangsiapa yang mencetak atau menjual, atau menyimpan dengan maksud untuk dijual atau disebarluaskan, atau menawarkan benda-benda perhiasan yang dicetak atau ditulis dengan tangan, atau foto-foto serta gambar-gambar porno, atau benda-benda lain yang dapat menyebabkan kerusakan akhlak, maka pelakunya akan dikenakan sanksi penjara sampai 6 bulan.” (Sistem Sanksi dalam Islam, hal. 288-289).

Hukuman tersebut termasuk dalam perkara ta’zir alias jenis dan bentuk hukumannya diserahkan kepada qadhi (hakim). Kalau memang tingkat bahayanya sangat besar, bisa saja qadhi menghukum lebih lama atau bentuk hukuman lain, misalnya dicambuk.Jika nanti Islam sudah diterapkan sebagai ideologi negara, mereka yang ada di pedalaman seperti di Papua, Suku Dayak dan lainnya, tidak akan dijadikan sebagai obyek wisata. Tidak seperti sekarang, mereka dianggap sebagai warisan budaya bangsa. Itu dzalim, karena seharusnya pemerintah memberikan pembinaan dan mendakwahi mereka agar mau hidup lebih mulia. Tapi nyatanya, malah dipelihara agar tetap jahiliyah seperti itu.  Dalam sejarahnya yang panjang, islam telah terbukti dapat menekan maraknya pornoaksi dan pornografi dan menjadikan kehidupan sosialnya kehidupan yang bersih, suci tidak seperti masyarakat barat yang bercorak sekuler dengan kehidupan sosialnya yang amburadul, mayoritas masyarakatnya tidak memiliki jalur keturunan yang jelas.

Jika demikian keadaannya, mana yang kita inginkan, Bogor menjadi “Kota Syar’i” yang penuh keberkahan dari langit dan bumi atau Bogor menjadi “Kota Pornografi” yang tentu akan menambah bencana kehidupan ini?  Wallahu’alam.

10 Maret 2006

Departemen Politik DPD HTI Bogor

One thought on “Bogor: Kota Pornografi ?

  1. Ada yang mengatakan bahwa melihat gambar aurat itu hukumnya mubah. Bagaimana bila itu juga dijadikan dalil dalam masalah pornografi? Apakah hukum melihat — mengkonsumsi — pornografi adalah juga mubah?❓

    Terus terang, saya mengalami kebingungan. Lalu, bagaimanakah hujjah yang tegas perihal pornografi?

    Allahu yahdinaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s