Mengkaji Ulang Asuransi Syariah – 1


Dari hari ke hari, semakin banyak orang yang tidak ingin lagi bertransaksi dengan sistem ribawi. Terlepas dari alasan apakah orang tersebut lebih banyak tertarik pada manfaat yang bisa diambilnya dari transaksi non ribawi. Namun kecenderungan peralihan tersebut menjadi suatu peluang besar bagi praktisi ekonomi syariah. Sehingga para pengusaha berbondong-bondong mengkonversi bisnis konvensionalnya menjadi bisnis syariah. Ada yang berubah murni, ada juga yang berubah nama saja.

Salah satu bisnis yang mulai berkembang adalah Asuransi Syariah. Kita coba pahami, apakah Islam mengenal Asuransi Syariah?

Berikut ini kajiannya :

1. Pengertian Asuransi

Asuransi berasal dan kata dalam bahasa lnggris insurance atau assurance yang berarti jaminan. Dalam pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) dijelaskan bahwa asuransi adalah: “suatu perjanjian, dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung dengan suatu premi untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tertentu.”

Pada awalnya asuransi dikenal di Eropa Barat pada Abad Pertengahan berupa asuransi kebakaran. Lalu pada abad 13-14, seiring dengan meningkatnya lalu lintas perhubungan laut antar pulau, berkembanglah asuransi pengangkutan taut. Asuransi jiwa sendiri baru dikenal pada awal abad ke-19. Kodifikasi hukum yang dibuat oleh Napoleon Bonaparte memuat pasal-pasal tentang asuransi dalam KUHD. Kodifikasi ini kemudian mempengaruhi KUHD Belanda, yang sebagiannya hingga sekarang masih dipakai di Indonesia.

Tujuan asuransi pada pokoknya adalah mengalihkan risiko yang ditimbulkan oleh peristiwa-peristiwa yang tidak diharapkan kepada orang lain yang bersedia mengambil risiko itu dengan mengganti kerugian yang dideritanya. Pihak yang bersedia menerima risiko itu disebut penanggung (insurer). Ia mau melakukan hal itu tentu bukanlah semata-mata demi kemanusiaan saja (bahkan mungkin alasan sosial ini memang tidak pernah ada), tapi karena Ia melihat dalam usaha ini terdapat celah untuk mengambil keuntungan. Sebagai perusahaan. pihak penanggung bagaimanapun Iebih dapat menilai besarnya risiko itu dan pada pihak tertanggung (insured) seorang. Berdasarkan besar kecilnya risiko yang dihadapi penanggung dan berapa besar persentase kemungkinan klaim yang akan diterimanya. didukurig analisa statistik. perusahaan asuransi dapat menghitung besarnya penggantian kerugian. Dan dari jumlah inilah perusahaan memintakan premi kepada pihak tertanggung. Di luar itu, perusahaan asuransi masih memasukkan biaya operasional dan margin keuntungan untuk perusahaa.  Ini merupakan teknik perusahaan asuransi untuk meraup untung. Bila biaya operasiorial dan margin keuntungan dari satu nasabah tentanggung sudah diperoleh, ditambah dengan perolehan bunga dan uang premi nasabah tiap bulan yang disimpan di bank, maka perusahaan asuransi tentu saja akan meraup untung berlipat-lipat dan semakin banyak nasabah yang berhasil digaet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s