Be The Best Supplier


Cerita lama tentang kelangkaan sekaligus kenaikan harga komoditas semen. Harga semen melonjak di atas harga patokan setempat (HPS), yang semula harga semen rata-rata Rp 5.400,- per sak naik menjadi Rp 8.500 per sak. Menteri Perindustrian menyatakan bahwa kenaikan harga semen di tahun 1993 terjadi karena kekhawatiran sejumlah distributor terhadap persediaan semen. Indikasi tentang keterlibatan para pelaku dalam mata rantai distribusi semen sulit untuk dihindari, walalupun mungkin juga bahwa kenaikan harga semen disebabkan melonjaknya kebutuhan semen dan supply terbatas karena produsen tidak memproduksi sesuai target yang telah ditentukan (Warta Ekonomi Oktober 1993).

Fenomena harga semen di tahun 1993 itu sebenarnya hanyakah merupakan satu contoh bahwa distribusi adalah merupakan satu fungsi pemasaran yang esensial dalam upaya menyampaikan produk pada target pasar yang tepat dan pada saat yang tepat. Optimalisasi fungsi pemasaran ini akan sanga tergantung  pada kehendak perantara –pengecer, pedagang besar, agen dan broker—untuk menganut aturan main dalam penyaluran distribusi produk yang telah ditetapkan. Sebagai konsekuensinya, manajer pemasaran harus mengambil serangkaian keputusan yang berkaitan denan penentuan jenis perantara yang akan dipergunakan, bagaimana memotivasi mereka untuk bersedia membantu menjual produk perusahaan, bearpa jumlah dana yang diipergnakan untuk mendukung upaya tersebut dan intensitas distribusi yang dipergunakan untuk menjamin ketersediaan produk di pasar.

Proses pertukaran yang terjadi antara penjual dan pembeli dalam kenyataannya melibatkan banyak aktivitas. Untuk keperluan distribusi fisik barang, seseorang harus terkait dengan fungsi pengangkutan dan penyimpanan. Seseorang juga harus berkomunikasi dengan pembeli potensial melalui pengikalan, personal selling, atau promosi penjualan untuk mendorong kesadaran konsumen atas produk dan berupaya membujuk mereka agar bersedia membeli. Upaya perusahaan mendistribusikan produknya hingga sampai ke konsumen dapat dilakukan dengan berbagai upaya, misalnya dengan menyampaikan langsung, door-to-door, seperti halnya yang dilakukan perusahaan kosmetika AVON; atau perusahaan dapat juga menggunakan mediator dalam membantu menyampaikan produk pada jangkauan wilayah yang lebih luas. Mediator dimaksud bisa berupa perusahaan ritel  seperti supermarket, minimarket atau Hypermarket.

Untuk membahas lebih lanjut tentang mekanisme dan strategi distribusi produk melalui perusahaan ritel modern, ada satu buah buku yang membahasnya secara tuntas. Buku tersebut berjudul: “Menjadi Supplier Hebat di Minimarket, Supermarket an Hipermarket.” Berikut ini adalah ulasannya :

RINGKASAN BUKU

Buku karya Frans M Royan tersebut mengawali bahasannya dengan mengurai sejarah dan seluk beluk Pasar Modern dengan mengungkapkan profil singkat beberapa ritel modern dunia dan beberapa ritel modern lokal.

Ritel modern disokong oleh mekanisme distribusi dan promosi yang lebih baik dibanding ritel tradisional. Demikian banyak para pelaku bisnis dalam ritel modern ini mengingat adanya perubahan kecenderungan konsumen dalam berbelaja. Potensi ini tentunya akan sangat menarik bagi para supplier / pemasok barang. Namun supplier mesti mengetahui lebih dalam sebelum menjadi supplier bagi ritel tersebut, sehingga bisa menyiasati setiap permintaan atau proposal yang diajukan oleh para outlet modern. Peritel modern yang bisa dikendalikan dengan baik, kelak akan bisa menjadi mitras yang sangat menguntungkan.

Review Buku Selengkapnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s