Tujuan Ekonomi Syariah


Ekonomi Syariah adalah sistem yang berorientasi pada tujuan (goal-oriented).

Ekonomi Islam ditujukan untuk memberikan jaminan pemenuhan semua kebutuhan pokok (primer) seluruh individu masyarakat, disertai jaminan yang memungkinkan setiap individu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pelengkap (sekunder dan tersier) sesuai dengan kadar kesanggupannya dan gaya hidup (life-style) tertentu dalam masyarakat.

Pemenuhan kebutuhan harus dipandang dapat dicapai oleh tiap individu bukan secara kolektif (agregat). Dengan demikian peningkatan taraf hidup harus dilihat per individu bukan berdasarkan tingkat kemakmuran rata-rata tanpa melihat aspek distribusinya.

Manusia sebagai individual akan dijamin oleh Islam untuk dipenuhi seluruh kebutuhan primernya secara sempurna, sekaligus didorong dan diberikan kesempatan untuk dapat memenuhi kebutuhan pelengkapnya.

1. Kebutuhan Pokok

Kebutuhan pokok (primer) dalam pandangan Islam mencakup kebutuhan terhadap barang tertentu berupa pangan, sandang dan papan serta kebutuhan terhadap jasa tertentu berupa keamanan, pendidikan dan kesehatan.

Pangan, sandang dan papan (perumahan) adalah kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi karena tidak seorangpun yang dapat melepaskan diri dari kebutuhan tersebut. Beberapa dalil yang menunjukkan ketiga kebutuhan tersebut sebagai kebutuhan pokok adalah sebagai berikut:

“Dan kewajiban ayah adalah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik…” (QS. Al-Baqarah :233)

 “Dan berilah mereka nafkah (belanja) dan pakaian (dari hasil harta itu). “ (QS. An-Nisa : 4)

 “Dan berilah makan orang-orang yang sengsara lagi fakir.”  (QS. Al-Hajj : 28)

 “Tempatkanlah mereka (para isteri) di tempat kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu…” (QS. At-Thalaq : 6)

 “… dan rumah-rumah temha tinggal yang kamu sukai…”       (QS. At-Taubah : 24)

 Rasulullah saw bersabda :

“Anak Adam tidak mempunyai kebutuhan selain dari sepotong roti untuk menghilangkan laparnya, seteguk air untuk meredakan dahaganya dan sepotong pakaian untuk menutup ‘auratnya.  Dan lebih dari itu adalah keutamaan.” (Al-Hadits)

2. Jaminan Pemenuhan Kebutuhan Pokok

Kebutuhan pokok manusia seperti pangan, sandang, papan, kesehatan dan pendidikan mutlak harus dipenuhi. Ada dua cara pelaksanaan jaminan kebutuhan pokok antara pemenuhan yang berbentuk barang dengan yang berbentuk jasa.

  1. Mekanisme tidak langsung, yakni dengan jalan menciptakan kondisi dan sarana yang dapat menjamin terpenuhi kebutuhan untuk pemenuhan kebutuhan pokok berupa barang (pangan, sandang dan papan).
  2. Mekanisme langsung, yakni negara secara langsung memenuhi kebutuhan jasa pokok berupa pendidikan dan kesehatan.

a. Mekanisme Tidak Langsung

Mekanisme tidak langsung untuk memenuhi kebutuhan pokok berupa barang ditempuh dalam enam tahap.

Pertama, menetapkan kewajiban dan mendorong setiap individu agar giat bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya” (QS. Al Mulk : 15).

Islam memberikan pujian bagi setiap individu muslim yang giat bekerja dan tidak menggantungkan hidupnya kepada belas kasihan orang lain.

“Tidaklah seorang di antara kamu makan suatu makanan, lebih baik daripada memakan dari hasil keringatnya sendiri” (HR. Baihaqi).

Kedua, negara berkewajiban menyediakan lapangan pekerjaan untuk tiap anggota masyarakat  yang sanggup bekerja namun tidak memiliki kesempatan kerja. Negara menyediakan lapangan pekerjaan dengan cara menciptakan kondisi agar perekonomian bisa tumbuh dengan baik, memberi bantuan modal, membagikan tanah pertanian kepada yang mampu mengelolanya serta menerapkan mekanisme distribusi kekayaan yang baik di tengah masyarakat.

Ketiga, Islam mewajibkan setiap individu mampu untuk memenuhi kebutuhan pokok ahli waris, kerabat dan mahramnya. Misalnya, seorang ayah wajib menafkahi anaknya dan seorang suami wajib menafkahi istrinya.

Keempat, pada kondisi tidak ada kerabat dan mahram yang mampu memenuhi kebutuhan pokok seorang individu, maka negara berkewajiban mencukupinya melalui kas zakat di baitul mal.

Kelima, jika kas zakat di baitul mal tidak mampu memenuhinya, negara akan mencukupinya dengan mengambil dari kas lain di luar zakat seperti dari harta milik negara.

Keenam, ketika kas negara (baitul mal) habis maka negara akan mewajibkan orang-orang kaya untuk mengumpulkan sebagian kelebihan harta mereka sebanyak kebutuhan yang ditetapkan.

b. Mekanisme Langsung

Pemenuhan kebutuhan pokok berupa jasa yakni keamanan, pendidikan dan kesehatan dilaksanakan langsung oleh negara kepada setiap individu rakyat.  Islam telah menentukan bahwa yang bertanggung jawab menjamin tiga jenis kebutuhan dasar tersebut adalah negara.  Negaralah yang harus mewujudkannya, agar dapat dinikmati seluruh rakyat, baik muslim maupun non-muslim. Baik kaya atau miskin. Seluruh biaya yang diperlukan, ditanggung oleh baitul mal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s