RAMADHAN, SAPI AUSTRALIA DAN PELUANG BISNIS


Mayoritas Rakyat Indonesia tidak lama lagi akan melaksanakan Ibadah Puasa Ramadhan. Bagi umat Islam pada aspek ibadah, merupakan kesempatan untuk memperbanyak amalan sehingga memperoleh Pahala dan peningkatan Keimanan.

Bagi para Pebisnis, siapa pun itu, bulan Ramadhan sampai dengan hari Raya Idulfithri merupakan kesempatan untuk menjajakan berbagai barang dagangan termasuk jasa guna meraup keuntungan yang besar. Bisnis yang bisa dilakukan begitu ragamnya. Mulai dari bisnis pakaian, makanan untuk buka puasa (ta’jil dan makan besarnya), sampai pada bisnis daging.

Peluang bisnis ini tidak hanya dilirik dan akan digarap oleh pebisnis dan pedagang domestic saja. Para pebisnis level internasional pun banyak yang tergiur untuk memanfaatkan peluang tersebut dan meraup keuntungan darinya.

Sebut saja salah satunya adalah pebisnis dari Negara Australia. Hubungan bisnis antara Indonesia dan Australia yang tidak ada hentinya bahkan terus meningkat adalah bisnis atau perdagangan sapi. Banyaknya rakyat Indonesia yang mengkonsumsi daging sapi, menyebabkan Indonesia tidak mampu mensuplai atau memenuhi permintaan rakyatnya sendiri, sehingga dilakukan impor dari Negara lain, salah satunya adalah Australia.

Pukesmaveta di tahun 2009 menulis sebuah artikel berjudul Indonesia Importir Terbesar Sapi Hidup. Dalam artikelnya tersebut, penulis menyampaikan data impor sapi Indonesia dari Australia. Sepanjang 2008 sebanyak 651.196 ekor atau 75 persen dari total ekspor sapi hidup Australia ke pasar dunia yang tercatat 869.545 ekor. Impor Indonesia sepanjang 2008 itu naik 26 persen dari impornya tahun 2007 yang mencapai 516.992 ekor.Total nilai impor Indonesia itu mencapai 419 juta dolar Australia. Dalam penjelasan persnya yang diperoleh ANTARA di Brisbane, Rabu, Meat & Livestocks Australia (MLA), perusahaan yang menjadi mitra industri peternakan dan pemerintah Australia ini, menyebutkan, Indonesia menjadi negara tujuan ekspor dan mitra dagang penting. Total ekspor sapi hidup Australia (2008) mencapai 869.545 ekor atau naik 150 ribu ekor dari total ekspor tahun 2007 yang tercatat 719.482 ekor. Dari hasil ekspor itu, Australia menerima devisa sebesar 644 juta dolar Australia.

Namun belakangan, Australia tidak mau lagi mengekspor sapinya ke Indonesia, dengan alasan bahwa di Indonesia banyak dilakukan “penyiksaan” terhadap sapi atau hewan lainnya, antara lain, sering dilakukan cambuk pada sapi dan proses penjagalan yang tidak layak. Hal ini merupakan pelanggaran Hak Asasi Ternak (HAT), kurang lebih demikian alasan Australia.

Padahal jika kita cermati lebih mendalam, alasan tersebut merupakan alasan yang mengada-ada. Alasan yang sebenarnya adalah Australia menginginkan keuntungan yang lebih besar dari bisnis sapinya dengan Indonesia. Australia lebih menginginkan kepada Indonesia untuk mengimpor daging sapi yang sudah dipotong dan dikemas di Australia disbanding sapi dalam keadaan hidup. Karena keuntungan yang diperoleh Australia dengan menjual sapi hidup, lebih kecil dibanding menjual daging sapi. Penghentian ekspor sapi ke Indonesia dilakukan agar Australia berkesempatan untuk memotong sapinya lebih banyak, sehingga memiliki stok daging sapi yang banyak di kemudian hari.  Australia telah memprediksikan akan adanya potensi dan peluang yang sangat besar dan menguntungkan di kemudian hari tersebut.

Sebenarnya ada apa di kemudian hari tersebut? Kemudian hari yang mana yang dimaksud Australia?

Tentu saja, yang dimaksud kemudian hari tersebut adalah hari-hari dimana masyarakat Indonesia mengkonsumsi banyak daging, yaitu saat menjalankan ibadah puasa dan merayakan lebaran (Hari Raya Idul Fitri) yang disusul dengan hari raya umat lainnya di bulan berikutnya. Pada masa itulah, diyakini Indonesia akan kekurangan pasokan daging sapi. Kondisi ini akan dimanfaatkan Australia dengan menawarkan stock daging sapi yang telah dipersiapkannya. Tentu dengan harga yang lebih mahal dibanding menjual sapi hidup.

Sikap yang terpenting dilakukan tentu saja terletak pada Kebijakan dan Kemauan Politis dari Pemerintah Indonesia, apakah akan tetap memiliki ketergantungan dengan Negara lain atau berupaya swasembada daging? Tentu ini adalah pilihan. Dan setiap pilihan akan memiliki resiko.

Jika pemerintah Indonesia, memilih untuk swasembada ternak atau daging sapi, maka Indonesia harus siap dengan ancaman yang datang dari para pebisnis mancanegara dan pemerintahnya. Tentu sebagai Negara berdaulat, hal ini harus bisa diatasi. Hanya saja, masih banyak oknum pejabat dan penguasa yang lebih senang “memancing di air keruh”. Kebijakan-kebijakan yang mengarah pada pembentukan kemandirian bangsa, sering digagalkan oleh “mereka” karena tergiur dengan iming-iming fulus yang bisa diperolehnya. Akhirnya, kondisi yang terjadi adalah menyerah pada mekanisme pasar dan intervensi Negara Asing. Sampai Kapankah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s