MOLIMO, Pekerjaan Pemerintah yang Belum Tuntas


Pendahuluan

Operasi 30 hari Polres Bogor yang dimulai sejak 19 Juli belum usai, tetapi pihak kepolisian telah menemukan banyak penyakit masyarakat antara lain 2676 botol minuman keras (miras) serta ribuan lain yang masih disita dari hasil operasi di berbagai wilayah Bogor.  Sebanyak 38 pekerja seks komerisal (PSK) dijaring dari wilayah Kemang-Parung, sementara kawin kontrak di kawasan Puncak cukup marak bulan Juli-Agustus seiring dengan masa liburan wisatawan asing terutama dari Timur Tengah.  Muncul pula biong seks, laki-laki yang secara resmi menjadi suami dari istri yang berprofesi sebagai PSK yang melakukan kawin kontrak dengan para wisatawan asing tersebut.

Pengedar narkoba ditangkap dalam keadaan teler di KRL sedang membawa 70 pil lektosan pada tanggal 25 Juli.  Mobil kijang disikat pencuri saat pemiliknya menghadiri pesta pernikahan di Gunung Sindur serta dirampasnya sebuah motor oleh oknum berseragam di depan GOR Pajajaran yang diduga sebagai modus baru pencurian sepeda bermotor di Bogor.  Pihak kepolisian juga telah menggerebek suatu lokasi di Sukasari yang disinyalir sebagai tempat perjudian yang cukup besar di Bogor, namun sayang kali ini tidak mendapatkan apa-apa kecuali sedikit barang bukti saja.  Sementara Mabes Polri sebelumnya telah menangkap 190 pelaku dan menahan 20 diantaranya dengan barang bukti sebesar 27.7 juta dalam penggerebekan di jalan Siliwangi No. 23.  Di berbagai tempat togel (toto gelap) juga semakin berani terang-terangan.

Belum lagi genap satu bulan, terpidana Asep Tarwan jalani hukumannya selama 19,6 tahun, kini kasus terbesar yang pernah terjadi di Bogor ini pun terus berlanjut.  Kejari Bogor dalam langkah awalnya hendak menarik salah seorang petinggi PT Delta Makmur Ekspressindo (DME) Hartono Tjahjaja yang diduga telah menerima uang dari Asep Tarwan sebesar 74,5 miliar melalui rekeningnya, untuk diproses dan diadili di Pengadilan Negeri Bogor.  Sementara uang sisanya Rp 19 miliar dari 93,5 miliar oleh Asep dimasukan ke rekening Ferdinan yang saat ini masih dalam daftar pencarian orang (DPO).

Itulah beberapa hasil operasi jajaran kepolisian Bogor serta beberapa peristiwa terakhir yang dilaporkan oleh media masa. Jika kita cermati ternyata data-data diatas telah cukup menjadi contoh betapa masalah yang disebut molimo (bahasa Jawa) yaitu main (berjudi), madat (narkoba), madon (main perempuan, berzina), maling (mencuri) dan mabuk (minuman keras) telah begitu merebak di Bogor ini.  Bahkan bisa jadi data-data tersebut juga bagai gunung es, bahwa yang tampak di permukaan hanyalah sebagian kecil saja sedangkan bagian terbesarnya malah tidak tampak.  Jika sinyalemen ini benar, maka ini berarti bahwa Bogor kini telah terserang sebuah penyakit masyarakat yang sangat mengerikan. Tetapi apakah masyarakat benar-benar merasakan atau mengetahui bahwa telah ada penyakit dalam tubuhnya?

Sebab-sebab Penyakit Masyarakat

Tampaknya tidak semua komponen masyarakat menyadari adanya penyakit masyarakat tersebut.  Dengan kata lain sebagian mereka tidak merasakan bahwa masyarakat mereka sedang sakit.  Hal ini antara lain adalah buah dari proses sekulerisasi di masyarakat yang begitu hebat.  Gaya hidup hedonis dan liberal telah menjadikan sebagian anggota masyarakat menganggap penyakit masyarakat tersebut biasa saja, sebagai bagian dari kebebasan individu dalam masyarakat.  Di sisi lain sikap individualis juga telah menjadikan masyarakat tidak mempedulikan keadaan di sekitarnya.

Jika penyakit fisik dengan mudah dapat dirasakan secara fisik oleh fisik yang sebelumnya sehat, maka penyakit masyarakat ini sebenarnya juga dengan mudah dapat dirasakan oleh masyarakat yang sebelumnya sehat.  Masyarakat yang sehat itu sendiri adalah masyarakat yang memiliki pemikiran, perasaan dan tata aturan yang sehat.  Sayangnya masyarakat kita telah dan sedang bergeser menuju ke arah pemikiran, perasaan dan tata aturan yang tidak sehat baginya.  Inilah yang dirasakan di Bogor, di Indonesia pada umunya dan bahkan di negeri-negeri muslim hampir di seluruh dunia.  Oleh karena itu untuk mencegah agar penyakit tersebut di atas tidak mewabah lebih luas di masyarakat, maka diperlukan upaya sungguh-sungguh menghadangnya.

Solusi Terhadap Penyakit Masyarakat

Jika penyakit fisik kebanyakan disebabkan oleh bakteri atau virus, maka penyakit masyarakat ini juga disebabkan oleh bakteri yang berupa pemikiran-pemikiran rusak serta virus yang berwujud standar nilai-nilai kehidupan rusak yang berasal dari luar Islam.  Keduanya secara bersama-sama turut mempengaruhi perasaan masyarakat dalam memandang kehidupan ini.

Mensikapi keadaan di atas, paling tidak ada dua upaya yang bisa ditempuh, yaitu upaya pencegahan serta pengobatan.  Jika untuk penyakit fisik, pencegahan dan pengobatan biasanya melibatkan dokter dan perawat, maka untuk penyakit masyarakat yang banyak terlibat adalah aparat-aparat yang ada di masyarakat yaitu kepolisian dan kehakiman.  Tetapi penyakit fisik dan penyakit masyarakat sebenarnya berada dalam satu naungan pengaturan yaitu negara.  Untuk penyakit fisik, negara mengatur pengadaan rumah sakit, puskesmas, klinik dan lain-lain sedangkan untuk penyakit masyarakat, negara menyediakan penjara yang diperlunak dengan sebutan lembaga pemasyarakatan.  Lembaga pemasyarakatan adalah lembaga bagaimana mewujudkan kembali masyarakat yang sehat.  Tetapi upaya ini lebih terkesan sebagai pengobatan.  Upaya-upaya pencegahan terasa sangat kurang mendapatkan perhatian. Padahal upaya ini sebenarnya lebih utama dilakukan agar masyarakat tetap dalam kondisi sehat.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit masyarakat memang harus dilakukan bersama antara individu, masyarakat dan negara dimana negara merupakan benteng terakhir dan terkuat dalam upaya pencegahan penyakit masyarakat karena di tangan negara terdapat otoritas pemeliharaan urusan rakyat.

  1. Dalam tataran individu rakyat harus ditanamkan tingkat ketaqwaan invididu yang terus menerus bahwa setiap perbuatannya akan diminta pertanggung jawaban oleh Sang Khaliq di hari akhir kelak.  Pembinaan individu ini dapat dilakukan di setiap institusi, dari institusi keluarga, sebagai komunitas terkecil hingga negara melalui instansi-instansi yang dimilikinya.  Pensuasanaan ketaqwaan individu bisa dilakukan sejak kecil dalam keluarga, tetangga, lingkungan RT, RW dan seterusnya.  Pendidikan sekolah juga berperan sangat dominan, meskipun harus disertai proses pendidikan extra sekolah yang melibatkan warga masyarakat secara luas.  Pendidikan terus menerus perlu mendapat fasilitas yang lebih memadahi seperti di masjid, musholla serta majlis taklim dengan perpustakaan, pembimbing yang memadai dan sebagainya.  Tentu hal ini memerlukan peran serta negara serta masyarakat.
  2. Di tingkat masyarakat perlu dikembangkan sikap mudah melakukan kontrol terhadap setiap keadaan masyarakat sebagai bagian dari amar ma’ruf, nahi munkar.  Sebagai realisasi terhadap kontrol ini, peran tokoh-tokoh masyarakat formal seperti ketua RT, RW, Kelurahan dan seterusnya maupun non formal seperti para kyai dan ustadz atau tokoh masyarakat selainnya sangat diperlukan peran sertanya.  Perlu juga ditumbuhkan kesadaran bahwa masyarakat ibarat penumpang sebuah perahu yang apabila ada anggotanya hendak merusak perahu itu maka seluruh anggotanya akan tenggelam, bukan hanya orang-orang yang melakukan kerusakan itu saja.
  3. Pada tingkat negara perlu diterapkan aturan yang benar-benar bisa mencegah munculnya penyakit tersebut, sekaligus sebagai penebus bila penyakit masyarakat itu terlanjur ada. Aturan itu berupa sanksi terhadap para pelakunya.  Cukup banyak juga penyakit tersebut muncul dengan alasan ekonomi.  Maka kebijakan ekonomi negara untuk mengadopsi sistem ekonomi yang benar-benar bisa menjamin kebutuhan pokok masyarakat harus segera diwujudkan.

Sanksi Terhadap Penyakit Masyarakat

Penerapan aturan oleh negara yang berhubungan dengan tindakan penyakit masyarakat tersebut di atas dapat dilakukan dengan penerapan syariah dalam bidang uqubat (sanksi).  Ada beberapa yang telah tegas hukumnya oleh syariah, dan ada beberapa yang memerlukan ijtihad dari para qadli (hakim), yang secara ringkas adalah sebagai berikut:

  1. Sanksi terhadap main (berjudi), adalah sesuai dengan ijtihad qadli (hakim).  Sebagian kitab fiqih menyebutkan sanksi perjudian adalah dijilid (didera atau dicambuk) 40 kali.
  2. Sanksi madat (narkoba) dan mabuk (minuman keras), adalah sesuai dengan ijtihad qadli (hakim), tetapi dalam sebagian kitab fiqih disebutkan sanksinya adalah tidak kurang dari 40 kali jilid (dera atau cambuk).
  3. Sanksi madon (berzina), adalah dirajam bila telah menikah dan dijilid 100 kali bila belum menikah.  Sebagian kitab fiqih menambahkan diasingkan bagi pelaku zina yang belum menikah setelah di dijilid 100 kali.
  4. Sanksi maling (mencuri) adalah dipotong tangan bila barang yang dicuri melampaui nishab.

Sebenarnya masih banyak rincian lebih mendalam dari persanksian di atas sebagaimana dibahas secara mendalam juga dalam kitab-kitab fiqih mengenai uqubat (sanksi) ini.

Dengan diterapkannya hukum-hukum tersebut, serta hukum-hukum yang lainnya dari syariah Islam, diharapkan masyarakat dapat terhindar dari penyakit masyarakat atau paling tidak dapat meminimalisirnya.  Wallaahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s