Renungan Ramadhan


Pada bulan yang penuh berkah, Ramadhan 1432H ini, ada baiknya kita semua merenungi merenungi penghidupan macam apa yang telah kita lalui selama ini. Adakah kesulitan atau kesempitan hidup terbaru dengan naiknya harga BBM yang menjulang tinggi ini merupakan kelanjutan rentetan penghidupan yang sempit, terutama sejak krisis moneter yang berlanjut kepada krisis ekonomi di negeri ini? Dari segi keuangan hutang luar negeri telah menumpuk, kurs rupiah kian melorot. Dalam hal kesehatan kita telah ditimpa demam berdarah, busung lapar, folio dan flu burung. Di dunia pendidikan muncul fenomena kapitalisasi pendidikan yang menjadikan pendidikan tinggi semakin mahal, sekolah-sekolah dasar banyak yang rusak serta meningkatnya angka bunuh diri anak-anak SD hanya karena tidak mampu membayar biaya sekolah. Berbagai bencana alam telah menimpa kita dari musibah tsunami, banjir, longsor, gunung meletus dan sebagainya. Di bidang moral negeri ini disibukkan dengan korupsi, pornografi, kenakalan remaja maupun aborsi. Kita juga telah mengalami krisis energi baik PLN, BBM maupun krisis air bahkan bukan hanya saat ini. Dalam masalah lingkungan negeri ini telah terkenal dengan kebakaran hutan dan kabut asapnya hingga manca negara, disamping pencemaran udara, laut maupun darat serta pembuangan limbah berbahaya dari luar negeri. Bahkan kita telah diuji pula dengan munculnya masalah-masalah yang berhubungan dengan aqidah, bukan hanya dengan TBC (takhayul, bid’ah, churafat) tapi juga sipilis (sekulerisme, pluralisme dan liberalisme). Kasus Gus Roy di Malang, Ahmadiyah di Parung, kasus gereja di Bandung serta kasus-kasus krisis aqidah lainnya masih terus berlanjut. Di bidang keamanan muncul kasus Sampit, Ambon, Poso, Papua, Aceh, Bom Marriot, Bom Kuningan, Bom Bali 2002 dan bahkan yang terakhir Bom Bali 1 Oktober 2005. Bukankah itu semua merupakan bentuk penghidupan kita dalam bernegara dan bermasyarakat yang sulit, bentuk penghidupan yang sempit? Al Qur’an menyebutnya: Dalam merenungi penghidupan yang sempit ini, Al Qur’an menjelaskan bahwa bentuk penghidupan yang seperti itu terjadi karena manusia berpaling dari peringatan Sang Pencipta, yaitu Allah SWT. “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (TQS Thoha [20]: 124). Lalu dimana letak berpalingnya manusia dari peringatan Allah akhir-akhir ini? Adakah hal itu karena umat ini telah murtad? Ataukah umat ini telah secara bersama-sama meninggalkan ibadahnya? Ternyata tidak. Secara individu, mereka masih memegang agamanya, mereka masih menjadi muslim. Dan secara individu pula mereka juga masih mengamalkan ibadah-ibadah mahdhohnya. Namun jika kita teliti secara lebih mendalam, ternyata umat ini telah berpaling dari tata aturan kehidupan Islam dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat dan semakin menerapkan kehidupan sekuler dan kapitalistik. Tengoklah muara krisis ekonomi yang tidak terlepas dari sistem ribawi, pengembangan sektor non riil dan spekulatif, tidak dijaganya aturan pemilikan yang seharusnya berada dalam tiga kategori pada batasnya masing-masing, yaitu pemilikan individu, pemilikan umum dan pemilikan negara, dan lebih mengedepankan pemilikan individu yang begitu nyaring dengan jargon swastanisasi serta pasar bebas (free trade). Demikian juga terabaikannya kebutuhan pokok bersama baik pendidikan, kesehatan maupun keamanan, juga tidak terlepas dari jerat kapitalisme, yang menjadikan segala sesuatu sebagai komoditi yang layak dijual dan memperoleh keuntungan. Musibah kebakaran hutan, longsor dan sebagainya juga banyak yang diakibatkan oleh diabaikannya aturan Sang Khaliq dan menurutkan aturan buatan tangan manusia itu sendiri berupa hawa nafsunya. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS Ar Rum [30]: 41) Tangan manusia yang lebih besar pengaruhnya dalam bermasyarakat dan bernegara tentu saja adalah “tangan” penguasa melalui peraturan atau perundangan yang diterapkannya. Efek perbuatan “tangan” penguasa inilah yang lebih besar pengaruhnya bagi masyarakat, dibandingkan dengan tangan-tangan individu-individu masyarakat. Jika aturan yang diterapkannya membawa kemaslahatan bagi rakyat secara pasti, maka itulah ciri penguasa yang baik, tetapi jika sebaliknya, yaitu membebani rakyat, maka itulah ciri penguasa yang buruk. Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan merekapun mencintai kalian, mereka mendoakan kalian dan kalianpun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan merekapun membenci kalian, kalian melaknat mereka dan merekapun melaknat kalian…” (HR Muslim). Rasulullah juga berdoa untuk kebaikan umatnya: “Ya Allah, siapa saja yang menjadi pengatur urusan umatku kemudian ia memberatkan mereka, maka beratkanlah ia” (HR. Muslim) Marilah kita renungkan bentuk-bentuk penghidupan sempit yang sedang kita alami akhir-akhir ini, dari krisis keuangan, krisis SDA, krisis pendidikan, krisis keamanan, krisis lingkungan, krisis kesehatan hingga bencana alam, dengan maksud agar kita sadar akan kesalahan-kesalahan kita dan kemudian kembali kepada jalan yang shahih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s