Refleksi Akhir Tahun 2011 : REVOLUSI TIMUR TENGAH


10. ARAB SPRING, REVOLUSI TIMUR TENGAH DAN KEBANGKITAN ISLAM

Dunia dikagetkan dengan aksi seorang anak muda pedagang bernama Mohamed Bouazizi yang membakar diri sebagai bentuk protes tindakan dzalim aparat atas dirinya yang tengah berjualan. Apa yang dilakukannya menjadi pemicu lahirnya revolusi di Tunisia. Revolusi yang pada akhirnya menggulingkan Ben Ali, yang telah berkuasa lebih dari 30 tahun. Aksi bakar diri pemuda ini tidak hanya membakar Tunisia. Apinya menjalar ke seluruh dunia Arab. Inilah yang kemudian dikenal dengan Arab Spring, al-rabi`e al-arabi.

Arab Spring membakar Mesir, lalu Libya. Husni Mubarak dan Qaddafi jatuh. Revolusi Timur Tengah yang telah mengakibatkan puluhan ribu tewas itu kini masih terus bergejolak di negara-negara Arab lain, yakni Yaman dan Suriah. Mungkin akan segera menyusul yang lain.

Sangat kentara bahwa aksi itu, baik yang terjadi di Tunis, Mesir maupun Libya dan Yaman, pada mulanya bersifat spontan. Hal ini menunjukkan realitas bahwa telah lenyapnya rasa takut dalam diri masyarakat terhadap penguasanya. Tindakan represif yang mereka alami bertahun-tahun lamanya akhirnya mencapai titik kulminasinya. Dan inilah yang mendorong kekuatan perlawanan.

Jadi, revolusi yang terjadi di Timur Tengah adalah revolusi rakyat. Bukan revolusi buatan seperti halnya Revolusi Orange di Ukraina dan Georgia yang bertujuan hanya untuk mengantarkan para politisi antek Barat pada kekuasaannya. Tokoh jadi-jadian itu muncul dengan menipu rakyat, mempermainkan perasaannya dan memenuhi beberapa tuntutan rakyat yang sifatnya sesaat. Revolusi seperti ini hakikatnya adalah revolusi para oportunis untuk memperkokoh pengaruh negara-negara Barat yang mendukungnya dengan mengorbankan kepentingan rakyat.

Arah Perubahan dari Arab Spring

Penting untuk menelaah kemana arah perubahan dari Arab Spring ini. Tumbangnya Zine el-Abidine Ben Ali, Mubarak dan Gaddafi, dan tak lama lagi mungkin Bashar Assad dan Ali Abdullah Saleh menunjukkan hasil utama yang diraih dari Revolusi Regional ini, yakni pembebasan dari otoritarianisme rezim tiran.

Para pengamat Barat selalu memposisikan otoritarianisme vis a vis demokrasi, sehingga seakan seakan tumbangnya rezim otoriter ini berarti adalah kemenangan dari demokratisasi. Di sini terlihat bahwa Barat selalu berupaya mengambil keuntungan dari proses perubahan politik dimanapun, termasuk di Timur Tengah. Di Mesir misalnya, AS mencoba mengambil untung  ketika ‘terpaksa’ menendang Mubarak, anteknya yang digulingkan dari pemerintahan. Kemudian para pemimpin Dewan Militer, yang juga adalah antek AS mulai melakukan pembodohan terhadap rakyat dengan berbagai cara. Hanya saja rakyat telah menyadari hal itu, sehingga terus melanjutkan revolusinya dengan menuntut penggulingan pemerintahan Dewan Militer.

Hal ini juga tampak di Tunisia, karena kekuatan Eropa, dalam hal ini Inggris dan Perancis, di Tunisia cukup dominan sehingga mereka bisa mengendalikan pergolakan itu melalui tangan antek-anteknya yang terlatih, yang menyusup di antara orang-orang yang melakukan perlawanan. Berikutnya mereka bisa menjaga bangunan rezim untuk menjaga keberlangsungan pengaruh kekuatan Eropa itu meski disertai sedikit “operasi artifisial”. Hal yang sama dengan taraf penyelesaian yang berbeda juga terjadi di Libya, Yaman dan Suriah.

Namun demikian, banyak pihak termasuk PM Israel Benyamin Netanyahu memprediksi Arab Spring akan berubah menjadi “gelombang Islamis, anti-Barat, anti-liberal, anti-Israel, dan anti-demokrasi”. Beberapa indikasi terlihat dengan menguatnya perubahan ke arah Islam. Partai Islam moderat, Ennahda, memenangkan pemilu di Tunisia. Partai Islam juga memenangkan pemilu di Maroko. Hal yang sama terjadi di Mesir dimana Partai Keadilan dan Kebebasan, sayap politik Ikhwanul Muslimin, memenangi pemilu disana.

Revolusi rakyat yang diberkati ini adalah kesempatan emas untuk melakukan perubahan radikal. Semestinya tokoh rakyat yang menuntut perubahan, berjuang terus hingga mereka memegang kendali semua urusan dan menerima kekuasaan dari rakyat, mengingat bahwa rakyatlah pemilik kekuasaan yang sebenarnya, dan menundukkan militer pada kekuasaan ini. Dan menjadikan kekuasaan ini untuk menegakkan perubahan yang hakiki, yaitu perubahan ke arah Islam.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Menilik berbagai persoalan yang timbul di sepanjang tahun 2011 sebebagaimana diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa:

1.      Setiap sistem yang tidak bersumber dari Allah SWT, Sang Pencipta manusia, kehidupan dan alam semesta yang Maha Tahu, pasti akan menimbulkan kerusakan dan akhirnya tumbang. Rapuhnya kapitalisme dengan berbagai bentuk kerusakan dan segala dampak ikutan yang ditimbulkannya berupa kemiskinan dan kesenjangan kaya miskin serta ketidakstabilan ekonomi dan politik, seperti yang saat ini tengah terjadi di berbagai belahan dunia adalah bukti nyata. Kenyataan ini semestinya menyadarkan kita semua untuk bersegera kembali kepada jalan yang benar, yakni jalan yang diridhai oleh Allah SWT, dan meninggalkan semua bentuk sistem dan ideologi kufur.

2.      Sekuat apapun sebuah rezim yang otoriter, korup, menindas rakyat dan durhaka kepada Allah SWT, meski telah dijaga dengan kekuatan senjata dan didukung oleh negara adidaya, cepat atau lambat pasti akan tumbang dan tersungkur secara tidak terhormat. Jatuhya Ben Ali, Mubarak, Qaddafi dan mungkin segera menyusul penguasa Syria, Bashar Assad, dan penguasa Yaman, Ali Abdullah Saleh, serta penguasa lalim di negara lain, adalah bukti nyata. Kenyataan ini semestinya memberikan peringatan kepada penguasa dimanapun untuk menjalankan kekuasaannya dengan benar, penuh amanah demi tegaknya kebenaran, bukan demi memperturutkan nafsu serakah kekuasaan dan kesetiaan pada negara penjajah. Pembuatan peraturan perundang-undangan yang bakal membungkam aspirasi rakyat, seperti UU Intelijen atau RUU Kamnas dan peraturan perundangan serupa di negeri ini, mungkin sesaat akan berjalan efektif, tapi cepat atau lambat itu semua justru akan memukul balik penguasa itu sendiri.

3.      Oleh karena itu, bila kita ingin sungguh-sungguh lepas dari berbagai persoalan yang tengah membelit negeri ini  seperti sebagiannya telah diuraikan di atas,  maka kita harus memilih sistem yang baik dan pemimpin yang amanah. Sistem yang baik hanya mungkin datang dari Dzat yang Maha Baik, itulah syariah Allah dan pemimpin yang amanah adalah yang mau tunduk pada sistem yang baik itu. Di sinilah esensi seruan Selamatkan Indonesia dengan Syariah yang gencar diserukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia. Karena hanya dengan sistem berdasar syariah yang dipimpin oleh orang amanah (Khalifah) saja Indonesia benar-benar bisa menjadi baik. Dengan sistem ini pula terdapat nilai transedental (ibadah) dalam setiap aktifitas sehari-hari yang akan membentengi setiap orang agar bekerja ikhlas, tidak terkontaminasi oleh kepentingan pribadi, golongan maupun asing. Memiliki paradigma yang jelas bahwa memimpin adalah amanah dari Allah dan syariah adalah jalan satu-satunya untuk memberikan kebaikan dan kerahmatan Islam bagi seluruh alam semesta, sedemikian kedzaliman dan penjajahan bisa dihapuskan di muka bumi.

Insya Allah

URL : http://hizbut-tahrir.or.id/2011/12/18/refleksi-akhir-tahun-2011/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s