PERINTAH ALLAH MERUPAKAN UJIAN KEIMANAN


Oleh: Muhammad Taufik Nusa Tajau    

Marilah kita senantiasa meningkatkan mutu keimanan dan kualitas ketaqwaan kita. Keimanan seseorang pastilah akan diuji oleh Allah swt, semakin tinggi tingkat keimanan, semakin berat pula ujian yang akan Allah berikan. Allah berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-‘Ankabut : 2 – 3)

Diantara jenis ujian yang Allah berikan kepada kita adalah ujian yang berbentuk perintah. Nabi Ibrahim a.s. diuji dengan perintah untuk meninggalkan Hajar dan Isma’il di lembah tandus di Makkah, Hajar , istri nabi Ibrahim di uji dengan ditinggalkan suami di tempat yang tak bertuan, dalam riwayat Bukhory dinyatakan bahwa awalnya beliau tidak rela, selalu mengikuti Ibrahim sambil berkali-kali bertanya:

يَا إِبْرَاهِيمُ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهذَا الْوَادِي الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ

“Wahai Ibrahim, kemana engkau akan pergi dan meninggalkan kami di lembah ini, lembah yang tidak ada orang dan tidak ada sesuatupun?”

Nabi Ibrahim diam, tidak sanggup menjawab pertanyaan istrinya, sampai akhirnya istrinya kemudian bertanya:

أَاللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا

“Apakah Allah yang memerintahkan engkau hal ini?”

Nabi Ibrahim baru bisa menjawab, “ya”, kemudian Hajar mengatakan

إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا

“Kalau demikian (perintah Allah), maka (Allah) tidak akan menelantarkan kami.”

Sungguh Ibrahim dan istrinya telah membuktikan keimanan mereka kepada Allah dengan menjunjung tinggi perintah Allah walaupun dalam pandangan kebanyakan manusia, perintah tersebut sangatlah tidak manusiawi. Coba kita bayangkan seandainya kita yang diperintahkan untuk meninggalkan istri dan anak yang sudah lama kita nantikan kelahirannya, bukan meninggalkan di tempat yang dekat, namun ditempat yang jauh yakni dari Palestina ke Makkah, bukan di tempat yang tersedia kebutuhan hidup, namun di lembah tandus yang air pun susah dicari, akan tetapi keimanan telah merasuk ke diri mereka, hingga dengan kemantapan hatinya Hajar mengatakan: “Kalau demikian (perintah Allah), maka (Allah) tidak akan menelantarkan kami”

Ketika mereka lulus dari ujian ini, tidak berselang lama turunlah ujian berikutnya yakni perintah untuk menyembelih putranya yang sangat ia cintai. Bagaimana mungkin seorang bapak harus menyembelih anaknya yang sangat dia cintai, padahal anaknya itu tidak melakukan kesalahan apapun. Sungguh ini ujian yang sangat berat sehingga Allah sendiri mengatakan:

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. Ash-Shaffat : 106).

Dan di sini kita melihat bagaimana kualitas iman Nabi Ibrahim as. yang benar-benar sudah tahan uji, sehingga dengan segala ketabahan dan kesabarannya, perintah yang sangat berat itupun dijalankan, walaupun akhirnya Allah menggantikan Isma’il dengan domba yang besar.

Apa yang dilakukan oleh keluarga Nabi Ibrahim a.s merupakan cermin bening untuk melihat sejauh mana kualitas keimanan kita kepada Allah SWT. Kualitas keimanan kita dapat kita ukur dengan merenungi sejauh mana sikap dan ketundukan kita kepada perintah-perintah Allah SWT.

Apakah kita melaksanakan shalat dengan rasa ringan atau berat?, apakah kita mengeluarkan zakat harta kita dengan enteng ataukah justru kita merasa rugi mengeluarkannya?, apakah kita berhaji karena perintah Allah ataukah karena gengsi?, sudahkah kita berupaya menambah ilmu kita setiap hari, ataukah kita hanya memberikan sisa-sisa waktu kita untuk ilmu, itupun kalau sempat? Sudahkah kita berupaya menegakkan semua perintah Allah dalam setiap aspek kehidupan kita?, dalam hal berekonomi, berinteraksi sosial, termasuk perintah-perintah Allah dalam mengatur pemerintahan? Kalau semua itu belum kita upayakan, atau kita berupaya namun asal-asalan, atau justru mencari-cari alasan untuk tidak menjalankannya, maka marilah mulai saat ini, kita kuatkan tekad untuk senantiasa berupaya melaksanakan semua perintah Allah SWT dalam aspek apapun.

Sungguh, ketaatan kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan bukan hanya merupakan ujian keimanan, yang bila kita laksanakan dengan sempurna akan menambah kekuatan iman kita, namun tegaknya perintah Allah, tegaknya syari’ah-Nya juga akan menjadikan hidup ini penuh berkah. Rasulullah bersabda:

لَحَدٌّ يُقَامُ فِي الأَرْضِ، خَيْرٌ لِأَهْلِهَا مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا

“Sungguh satu hukum yang ditegakkan dibumi lebih baik bagi penduduknya daripada mereka diberi hujan 40 pagi.” (HR Ahmad dan An Nasa’i dari Abu Hurairah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s